Andaikan Saya orang Indonesia yang seperti orang Belanda
Buku tebal tak pernah mereka lupakan, entah itu buku bacaan, diary,
agenda atau apa saja yg bisa mereka bawa untuk dibaca dan ditulis.
Berbeda dgn saya, isi tas saya penuh dgn kertas berisi data namun belum
tentu akan saya gunakan, beberapa charger HP, pakaian untuk seminggu,
beserta alat2 mandi, alat2 tulis lengkap dalam tas namun tak akan saya
gunakan untuk menulis. Mereka (orang Belanda,red) selalu menulis semua
hal yg mereka lihat atau dengar dlm perjalanan mereka, minimal tulisan
itu akan mereka baca suatu saat..Saya, bagaimana bisa menyamai mereka.
Memikirkan untuk menulis saja enggan apalagi mencoba untuk menulis.
Minat saya untuk membaca mungkin sdikit lebih baik dari minat menulis
saya namun saya tidak akan membaca bacaan yang berat apalagi novel dgn
ratusan halaman tebalnya. Mereka, sejak masih kanak-kanak sudah
dibiasakan membaca bacaan berat, menulis resume tentang berbagai hal.
Mereka sejak dahulu sudah menyukai membaca dan menulis, membaca dan
menulis sudah menjadi budaya mereka. Mungkin itulah penyebabnya mengapa
arsip-arsip tentang Indonesia yang ada pada mereka lebih lengkap
ketimbang Indonesia sendiri.
Berbicara tentang budaya,
membaca dan menulis belum menjadi budaya dalam hidup saya. Jangankan
budaya, menjadikan kebiasaan saja tidak. Saya tidak bisa menyalahkan
siapa-siapa atas keadaan ini walaupun saya menyesal kenapa saya tidak
membiasakan diri saya untuk membaca dan menulis sejak kecil. Saya
menjadi iri ketika melihat banyak teman yang telah menjadikan membaca
dan menulis sebagai hobby mereka, bagian dari aktivitas sehari-hari
sejak lama..
Andaikan saya bisa me-request pada
Tuhan sesaat sebelum dilahirkan, saya ingin meminta agar dilahirkan di
negeri Belanda atau di negara mana saja asalkan saya bisa dibesarkan
dalam budaya yang menggemari membaca dan menulis, atau mungkin saya akan
meminta Tuhan membuat Indonesia menjadi negara yang semua penduduknya,
budayanya menggemari membaca dan menulis sehingga saya tak perlu
dilahirkan di negeri Belanda (saya cinta Indonesia). :) Berhubung waktu
tidak bisa diputar kembali, hal yang bisa saya lakukan adalah belajar
menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian dari aktivitas saya
sehari-hari (terlambat sadar. lebih baik dari pada tidak sama sekali).
Teman-teman saya bisa, kenapa saya tidak? hehehe ....
Saya
ingin menjadi orang Indonesia yang gemar membaca dan menulis seperti
orang Belanda. Suatu saat nanti saya harus melihat negeri Belanda
SoE, 31 Oktober 2011
Setelah membaca wawancara dgn seorang Belanda di koran.
Bwt Sandra: thanks sudah jadi guru buat saya.. :)
menulis emang asyik loh ^_^
BalasHapuspeace ^_^v
jiwindwalking.blogspot.com :)