Rumah Tua
Perkenalkan, aku si Rumah Tua. Aku
telah ada saat kota ini baru saja ditetapkan sebagai ibukota kabupaten. Aku tak
memiliki banyak teman karena memang kota ini masih sepi penghuni. Bangunan yang masih bisa dihitung dengan jari.
Jalanan kotapun masih seadanya dilapisi tanah putih dan belum
banyak kendaraan yang lalu lalang selain kendaraan dinas para pegawai
pemerintahan dan usif. Kota ini
dikenal karena udaranya yang dingin menusuk namun belum apa-apa jika
dibandingkan saat itu. Beberapa kali kota ini dilanda hujan es padahal pulau ini begitu tandus dan
hanya dikelilingi sabana. Kamu bisa bayangkan betapa sepinya diriku. Mematung
sendirian dan kedinginan.
Sampai suatu saat datang satu keluarga. Sang ayah,
pria berperawakan tinggi, tampan dan berkulit coklat. Ia didampingi seorang istri yang
tinggi juga cantik, kulitnya kuning. Sungguh pasangan yang serasi. Aku begitu
bahagia saat melihat keluarga ini datang. Terima kasih Tuhan, aku tidak
kesepian lagi. Dan benar saja aku tidak kesepian lagi sejak saat itu karena
rupanya keluarga ini adalah keluarga besar. Besar dalam jumlah dan
karakter..hehehehe. Saat
pertama kali datang keluarga ini memiliki tiga orang anak laki-laki dan seorang
anak perempuan namun setelah itu lahir lagi empat orang anak perempuan. Belum
lagi para sanak famili yang turut meramaikan keluarga ini. Yang ku kagumi dari
keluarga ini adalah saat ibadah keluarga yang diadakan setiap pagi dan malam
hari. Mereka akan berdoa, membaca Alkitab dan menyanyi bersama. Kebiasaan yang
jarang ditemukan di keluarga lain. Sang ayah
bukanlah suami
yang membiarkan istrinya bertanggungjawab sendiri terhadap tumbuh-kembang anak-anak
mereka. Ia juga terlibat dalam hal mengasuh anak-anaknya. Ia mendisiplinkan mereka dan juga menanamkan pemahaman
agama yang baik kepada mereka. Anak-anak ini beruntung memiliki ibu yang luar
biasa, selalu cekatan dan paham benar setiap apa yang diinginkan anak-anaknya.
Waktu berlalu dan anak-anak ini beranjak dewasa. Para
kakak harus melanjutkan pendidikan ke luar kota. Beberapa bahkan ke luar pulau,
merantau ke tanah Jawa. Keriuhan di meja makan mulai berkurang namun selalu ada
cerita baru. Aku si rumah tua, setiap bagianku menjadi saksi untuk setiap
cerita yang dialami keluarga ini. Jendela kamar belakang selalu menjadi jalan
pintas melarikan diri atau menyelinap masuk di malam hari bagi anak laki-laki
yang ke tiga,si Kepala Batu. Loteng kamar tengah selalu menjadi tempat
menyembunyikan surat-surat cinta sejak anak-anak perempuan remaja dan aku tetap
menyimpan semuanya hingga saat ini. Surat-surat cinta ini menjadi hiburan
tersendiri buatku. Diantara surat-surat cinta ini ada juga beberapa surat yang
dikirim oleh anak-anak lelaki yang sedang merantau. Surat dari anak lelaki
tertua yang memberitahukan kalau ia akan pindah jurusan dan mulai kehabisan
uang, ada juga surat anak lelaki ke-2 yang meminta dibelikan mesin tik karena
ia begitu suka menulis mengikuti jejak ayahnya. Ruang makan selalu menjadi
tempat paling ramai, tempat berkumpul seluruh penghuni rumah sambil bercerita
tentang apa saja termasuk kebiasaan “tutur” yang selalu menjadi sumber pengetahuan
sejarah keluarga ini. Ruang tamu juga tak pernah sepi dari tamu yang
berkunjung, belakangan aku baru tahu kalau sang Ayah adalah seorang Kepala
Dinas paling vital saat itu, Dinas Pengadjaran. Tak heran selalu saja ada tamu
yang datang. Kehidupan keluarga ini sangat sederhana sehingga akupun tak
menyangka kalau sang kepala keluarga adalah orang penting di kota ini.
Bagaimana tidak? Orang yang menduduki jabatan yang sama di milenium ini sudah
pasti mendapat fasilitas mobil dinas dan sebagainya sedangkan sang Ayah setiap
harinya hanya menunggangi seekor kuda Timor berbulu coklat.
Kebahagiaan dan keceriaan selalu ada dalam keluarga ini
namun sempat hilang saat musibah itu datang. Sang kepala keluarga telah lama
mengidap penyakit maag kronis. Dedikasinya yang tinggi terhadap pekerjaan
membuat ia sering mengabaikan jadwal makan. Suatu hari karena kecapaian
mengikuti acara keluarga di kampung dan maag kronis nya yang kambuh ia harus
dilarikan ke rumah sakit. Dokter berusaha semampunya namun sayang nyawanya tak
tertolong. Sungguh merupakan pukulan hebat bagi keluarga ini. Mereka masih
sangat membutuhkan sosok ayah bagi kedelapan anaknya, sosok suami bagi
istrinya, tulang punggung bagi keluarga ini, kota inipun masih membutuhkan
sosok panutan. Ini pertama kalinya aku melihat kebahagiaan dan keceriaan dalam
keluarga ini hilang tak berbekas.
Aku si Rumah Tua, aku masih kokoh berdiri menyaksikan
hal-hal luar biasa dalam keluarga yang baru saja ditinggal oleh sang kepala keluarga.
Tak ada yang berubah setelah kehilangan besar itu. Ibadah setiap pagi dan malam
tetap menjadi acara rutin hingga berpuluh tahun kemudian. Kehilangan tulang
punggung keluarga disaat 8 anaknya masih bersekolah dan kuliah tentunya
merupakan kesulitan yang tak mudah diselesaikan. Namun sang istri mampu
melewatinya. Ia sejatinya adalah wanita yang tegar dan perkasa. Ku sebut ia
perkasa karena ia dapat menyekolahkan ke delapan anaknya hingga ke jenjang
sarjana tanpa suami di sisinya, menikahkan seluruh anaknya dan mengasuh
beberapa cucu yang ia minta tinggal menemaninya melewati masa-masa tuanya. Hidupnya
seperti membentuk sebuah siklus. Ia mengulang kembali apa yang ia lakukan
bersama suaminya, menanamkan pemahaman agama yang benar namun bukan lagi pada
anak-anaknya tetapi anak-anak dari anak-anaknya, cucu-cucunya. Wanita ini
selalu mengatakan tak ada harta yang dapat ia wariskan selain apa yang ia
tanamkan dalam hati dan pikiran cucu-cucunya. Apa yang ia lakukan membuat
kekagumanku padanya kian bertambah. Keramaian yang sempat hilang kembali hadir
apabila menjelang Natal. Kedelapan anaknya akan kembali dari tanah rantau dan
membawa serta keluarga mereka. Kamar-kamarku penuh sesak saat perayaan Natal.
Tempat tidur tak cukup sehingga mereka akan menggelar kasur dilantai dan tidur
seperti ikan asin yang dijemur.
25 tahun setelah kematian sang kepala keluarga, aku si
Rumah Tua kembali harus menyaksikan sebuah kehilangan besar. Sang istri
akhirnya harus pergi untuk selama-lamanya setelah berbulan-bulan berjuang
melawan penyakit diabetes dan usianya yang telah lanjut. Waktu terasa begitu
cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin aku tersenyum begitu melihat keluarga
ini datang pertama kalinya. Aku sangat sedih, sangat kehilangan. Takkan lagi
kulihat senyum tulus yang selalu mengembang dari wanita ini, takkan lagi
kusaksikan wanita ini memimpin ibadah pagi dan malam hari, takkan lagi ku
dengar suara lembut nan tegas saat ia membimbing cucu-cucunya. Senyum-senyum
tulus masih kulihat dirumah ini, ibadah pagi dan malam tetap menjadi ritual
wajib setiap hari, namun tak lagi sama.
Kadang aku iri kepada manusia, mereka diciptakan oleh
sang Pencipta dengan misi dan tujuan masing-masing. Saat misi dan tujuan
tersebut telah dijalakan, mereka akan dipanggil pulang oleh sang Pencipta lewat
kematian. Tetapi aku sadar, aku pun dibangun bukan tanpa maksud dan tujuan. Aku
dibangun untuk menjadi tempat berlindung, tempat bertumbuh dan berkembang bagi
keluarga-keluarga hebat seperti keluarga ini. Aku bangga telah menjadi saksi
untuk setiap kejadian yang dialami oleh keluarga ini.
Aku si Rumah Tua, tak tahu sampai kapan akan bertahan.
10, 50, atau 100 tahun lagi. Yang pasti aku masih ingin menjadi saksi untuk
setiap cerita yang akan terjadi dalam keluarga ini, di kota ini. Jika suatu
saat nanti aku dirubuhkan, digusur seperti nasib rumah-rumah tua lainnya aku
tak akan menyesal karena apa yang aku alami telah melampaui apa yang menjadi
tujuan aku dibangun.
Soe, 1 Desember 2013
You successfully brought me to tears, cousin :')
BalasHapusAnd I'm now officially missing that old house, Soe, and all the Tunliu <3