Oehala, riwayatmu kini...



Ide menulis tentang Air Terjun Oehala sebenarnya sudah muncul sejak lama karena salah satu tujuan awal membuat saya blog ini adalah untuk mengangkat potensi yang dimiliki tanah kelahiran saya, Timor Tengah Selatan (meskipun dalam perjalanannya blog ini tak ubahnya ladang yang tak terurus) namun belum juga terlaksana. Semangat untuk menulis tentang Oehala kemudian tersulut saat saya mengantarkan seorang teman dari luar daerah ke Oehala dan melihat perubahan yang terjadi setelah sekian lama Oehala menjadi objek wisata andalan Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Air Terjun Oehala
Menurut cerita awalnya tempat ini dikenal dengan nama Oe Halan, mengacu pada tempat terbentuknya kesepakatan damai antara dua suku yang berperang. Dalam bahasa Dawan,  Oe artinya air dan halan artinya damai, perdamaian. Nama Oehala dikenalkan oleh bupati yang menjabat saat itu dikarenakan bentuk air terjun ini yang sekilas mirip tempat tidur bertingkat (hala artinya tempat tidur). Semenjak itu nama air terjun Oehala kian harum seharum cendana..

Oehala, pada pandangan pertama..
Pertama kali saya menginjakkan kaki di Oehala sekitar tahun 1995. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SD. Tujuan ke sana waktu itu bukan untuk berwisata tapi diajak oleh ayah dari teman saya yang biasanya membeli ternak di sana. Saat itu Oehala belum terkenal seperti sekarang. Belum ada fasilitas kamar mandi, Lopo tempat duduk-duduk, loket karcis dan pintu gerbang seperti yang bisa dijumpai saat ini. Jalan aspal yang ada waktu itu pun belum lama diresmikan. Saya berani menjamin bahwa kondisi Air Terjun Oehala saat itu masih 100% asli, belum terjamah, dan jauh dari kontaminasi polutan. Memang di sisi air terjuan dibangun sebuah unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (lebih tepatnya micro hydro) namun tidak memberi kontribusi yang negatif selain sebagai penghias karena umur pembangkit listrik ini pun tak sampai setahun. Saya tak ingin mengada-ngada tetapi karena masih sangat bersih dan asli, kami tak pernah ragu untuk meminum air dari aliran air terjun secara langsung. Dengan kondisi Oehala yang demikian asli, bersih, dan indah tak heran pujian dan kekaguman selalu keluar dari mulut setiap wisatawan yang datang berkunjung.

Oehala, riwayat mu kini..
Sebagai orang yang lahir dan besar di bumi Timor Tengah Selatan tak dapat dipungkiri Air Terjun Oehala merupakan salah satu tempat yang saya bangga-banggakan ke teman-teman dari daerah lain. Saya tak pernah ragu untuk merekomendasikan air terjun Oehala ke wisatawan yang bertanya via media sosial. Beberapa turis mancanegara pernah saya antar ke Oehala dan mereka semua puas dengan suguhan pemandangan air terjun 7 tingkat khas Oehala. Banyak anak-anak TTS yang turut mempromosikan Air Terjun Oehala ke dunia luar, pemerintah daerah pun gencar mempromosikannya setiap tahun.  Setiap tahun ada ribuan orang yang datang berkunjung. Di tahun 2013 ada 2.155 orang yang berkunjung ke Oehala (TTS Dalam Angka Tahun 2014). Jumlah ini tentunya bukan angka sebenarnya. Kenapa? Angka kunjungan tersebut didapatkan dari jumlah karcis masuk yang dikeluarkan oleh dinas terkait. Sementara pada kenyataannya tidak semua pengunjung yang masuk mendapatkan karcis masuk meskipun telah membayar. Berdasarkan pengalaman pribadi jika berkunjung pada hari selain hari minggu atau hari libur nasional maka hampir pasti saya tidak akan mendapatkan karcis masuk. Tadi siang (Sabtu, 24/10/2015) saya pun mengalami hal yang sama. Hahahah...jangan tanya saya kenapa? Lain waktu akan saya bahas tentang ini...cciieee.. (tapi tidak janji ya?).

Sampah berserakan di luar tempat sampah.
Kembali ke inti masalah. Peningkatan jumlah pengunjung di air terjun Oehala dari tahun ke tahun merupakan kabar gembira bagi kemajuan Pariwisata di Timor Tengah Selatan tetapi di sisi lain justru menimbulkan masalah baru. Setiap pengunjung tentunya punya tujuan yang berbeda-beda. Ada yang sekedar melihat-lihat, refreshing dengan keluarga atau teman kantor, pacaran, bahkan ada yang sangat niat membawa pakaian kotor bertumpuk-tumpuk (mungkin disimpan selama
Sampah mengapung
di aliran air terjun. 
1 tahun) untuk mencuci di obyek wisata terkenal ini (Sumber air masih jauh kayaknya). Dengan aktivitas pengunjung yang beragam dan luar biasa kreatif sudah pasti menghasilkan limbah yang tak kalah banyak. Teman saya, seorang backpacker asal Kanada sempat komplain soal sampah dan vandalisme ia lihat saat kami berkunjung 4 bulan lalu.  Saya seperti tersambar petir saat mendengar komplain darinya. Padahal saya sendiri yang mengajaknya. Berawal dari komplain teman tadi, saya lalu mengumpulkan beberapa gambar kondisi air terjun Oehala 20 tahun semenjak pandangan pertama. Saya baru sadar Oehala ternyata sudah tak “perawan” lagi. Sampah plastik berserakan dimana-mana padahal tempat sampah sudah tersedia.Bahkan dibanyak titik terdapat sejumlah botol bekas minuman dan air mineral yang mengapung. Instalasi dan bangunan Pembangkit Listrik yang ada menjadi sasaran vandalisme oknum tak bertanggung jawab, sungguh sangat merusak pemandangan. Air yang dulu jernih, bening sekarang menjadi keruh akibat banyaknya aktivitas mencuci di bagian hulu air terjun padahal normalnya air menjadi keruh hanya terjadi saat musim penghujan.

Lagi-lagi wadah makanan dan air mineral
dibuang seenaknya
Saya sangat menyayangkan kelakuan kita sebagai pengunjung yang justru merusak kelestarian objek wisata alam yang unik ini.  Jangan salahkan pemerintah yang belum maksimal mengelola, sebab kita lah yang bertanggung jawab atas sampah-sampah tersebut. Jika kita dengan sadar membuang sampah pada tempat yang tersedia maka takkan ada lagi sampah yang berserakan, jika kita tak lagi mencuci di hulu air terjun maka aliran air terjun tak akan keruh, jika aksi coret-coret tak lagi kita lakukan maka pemandangan disekitar air terjun Oehala pasti lebih indah. 

Aliran air yang keruh dan berbuih di musim kemarau.
Indikasi telah tercemar

Vandalisme yang dilakukan oleh amatiran.
Mari kita belajar menjadi pengunjungan/wisatawan yang bijak, yang tidak meninggalkan sampah seenaknya, wisatawan yang peduli akan kelestarian objek wisata Air Terjun Oehala yang juga menjadi hak untuk dinikmati oleh anak cucu kita kelak.


KAWAN-KAWAN KALAU JALAN-JALAN KE OEHALA DAN MUTIS JANGAN LUPA BAWA PULANG SAMPAH NYA..
SALAM LESTARI!!!!
Pohon yang diperkirakan berumur ratusan tahun ini
terbakar karena ada pengunjung lupa
 memadamkan api setelah berbeque-an




















PS: 
Foto yang ada merupakan dokumentasi pribadi


Komentar